Kegiatan Ekstrakulikuler
Pengalaman Mengikuti Ekstrakurikuler Kuliner di Sekolah
Sejak kecil, aku selalu tertarik dengan dunia kuliner. Setiap kali melihat ibuku memasak di dapur, aku sering ikut membantu meski hanya sekadar mengaduk adonan atau mencuci sayuran. Karena itu, saat sekolah membuka program ekstrakurikuler kuliner, aku langsung mendaftarkan diri tanpa ragu. Bagiku, ini adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang memasak sekaligus menyalurkan hobi.
Kegiatan ekstrakurikuler kuliner biasanya dilaksanakan setiap Jumat sore setelah jam pelajaran selesai. Kami berkumpul di ruang dapur praktek yang telah disediakan sekolah. Dapurnya cukup luas, dilengkapi dengan kompor, oven, panci, wajan, serta berbagai peralatan lain yang membuat suasana benar-benar seperti dapur profesional. Setiap kali masuk ruangan itu, aku merasa semangatku langsung bertambah karena seakan-akan sedang berada di acara memasak di televisi.
Pada pertemuan pertama, pembina kami memperkenalkan dasar-dasar keselamatan dan kebersihan di dapur. Kami diajari bagaimana mencuci tangan dengan benar, cara menggunakan pisau dengan hati-hati, hingga pentingnya menjaga kebersihan peralatan sebelum dan sesudah dipakai. Awalnya aku mengira ekstrakurikuler ini hanya soal memasak, tetapi ternyata juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteraturan.
Beberapa minggu kemudian, tibalah saatnya kami mulai praktek membuat makanan. Setiap pertemuan memiliki tema yang berbeda, misalnya masakan tradisional, kue-kue sederhana, makanan modern, hingga minuman segar. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagiku adalah ketika kami belajar membuat kue lapis tradisional. Kue ini terkenal dengan warna-warni lapisannya yang cantik dan rasanya yang manis.
Hari itu, aku dan teman-teman dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompokku terdiri dari empat orang. Tugas kami dibagi rata: ada yang menimbang tepung, ada yang menyiapkan santan, ada yang mengaduk adonan, dan aku kebagian mengatur warna serta menuangkan adonan ke dalam cetakan. Prosesnya ternyata tidak mudah, karena setiap lapisan harus dikukus terlebih dahulu sebelum menuangkan lapisan berikutnya. Jika terburu-buru, hasilnya bisa tidak rapi.
Awalnya aku sempat merasa gugup, takut lapisan yang kutuang tidak rata atau warnanya tercampur. Namun, dengan bimbingan pembina dan dukungan teman-teman, aku berhasil melakukannya dengan baik. Rasanya luar biasa ketika melihat kue lapis yang kami buat akhirnya matang dengan sempurna. Warnanya cerah, susunannya rapi, dan ketika dicicipi, rasanya manis serta lembut. Saat itu, aku merasa bangga karena bisa menghasilkan sesuatu yang indah dan lezat dari kerja sama tim.
Selain belajar memasak, ekstrakurikuler kuliner juga mengajarkanku banyak hal lain. Aku belajar tentang kerjasama karena setiap masakan pasti membutuhkan peran semua anggota kelompok. Aku belajar tentang kesabaran, sebab beberapa resep membutuhkan waktu lama dan tidak bisa diselesaikan dengan terburu-buru. Aku juga belajar tentang kreativitas, misalnya saat menghias makanan agar terlihat lebih menarik. Semua pengalaman itu membuatku sadar bahwa kuliner bukan hanya soal makan dan kenyang, tetapi juga seni yang penuh makna.
Setelah beberapa bulan mengikuti kegiatan ini, aku merasa kemampuan memasakku semakin berkembang. Jika dulu aku hanya bisa memasak mie instan atau menggoreng telur, sekarang aku sudah bisa membuat kue sederhana, minuman segar, bahkan beberapa makanan tradisional. Kadang aku mempraktikkan resep yang kupelajari di rumah, dan keluargaku selalu senang ketika mencicipinya. Bahkan ibuku sering berkata bahwa aku semakin terampil di dapur.
Bagi diriku, mengikuti ekstrakurikuler kuliner di sekolah adalah pengalaman yang sangat berharga. Aku tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menemukan rasa percaya diri. Kini aku semakin yakin bahwa minatku di bidang kuliner bisa terus dikembangkan, bahkan mungkin menjadi bagian dari masa depan. Aku bercita-cita suatu hari nanti bisa membuka usaha kuliner sendiri dan membagikan kebahagiaan melalui makanan.
Kesimpulannya, ekstrakurikuler kuliner bukan hanya sekadar kegiatan tambahan di sekolah, tetapi juga wadah untuk mengasah bakat, membentuk kerjasama, melatih kesabaran, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab. Pengalaman yang kudapat dari kegiatan ini akan selalu kuingat, karena melalui kuliner aku belajar bahwa setiap masakan memiliki cerita, dan setiap proses memasak adalah perjalanan menuju kebahagiaan.



Dontol
BalasHapus👍🏻
BalasHapus